Angkot Mogok, Efektifkah? Mengatasi Demonstrasi Sopir Angkot

Saya melihat di beranda Facebook ada teman yang bekerja di Dishub Kota Bandung membagikan kiriman gambar yang isinya mengajak warga untuk bergotong royong memberi tebengan (tumpangan), bagi para pelajar dan pekerja dalam menghadapi rencana para sopir kendaraan umum yang akan mogok beroperasi selama 4 hari pada tanggal 8 sampai 11 Mei 2018.
Walaupun masih simpang siur apakah hanya akan berdemonstrasi saja atau diikuti dengan mogoknya para sopir angkot beroperasi. Ini gambar yang dibagikan tersebut:

Gotong royong beri tebengan pelajar dan pekerja dari angkot mogok
Gotong royong beri tebengan pelajar dan pekerja dari angkot mogok

Pada tanggal tersebut bertepatan dengan jadwal Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) mungkin agar efeknya lebih mengena, pada saat genting mau ujian eh angkotnya mogok.

Rencana demo dilakukan dengan alasan karena para sopir angkot merasa dalam kondisi pailit dampak dari beroperasinya angkutan online seperti Gojek dan Grab. Namun apakah pemogokan tersebut akan efektif?

Efek Sopir Angkot Berdemo

Menurut saya, pemogokan tersebut tidak akan efekti dan malah akan merugikan semua pihak. Mengapa? Pertama, selama dalam masa pemogkan berarti para sopir angkot tidak akan mendapatkan pemasukan yang kedua tentu saja para pengguna angkot, apabila ada yang belum mengetahui rencana tersebut, tentu akan kerepotan karena belum mempersiapkannya. Kemudian justru dampak kedepannya akan lebih rugi para sopir angkot tersebut karena para penumpang setia angkot sudah "dilatih" agar terbiasa dengan tidak adanya angkot.

Ilustrasinya mungkin seperti ini: "para pelangganku, dalam beberapa hari ke depan belajarlah menginstall aplikasi angkutan online dan rasakanlah bagaimana mudahnya memakai jasa tersebut"

Himbauan untuk menggunakan transportasi lain saat angkot mogok beroperasi
Himbauan untuk menggunakan transportasi lain saat angkot mogok beroperasi

Pengalaman Menggunakan Transportasi Online

Berbagi pengalaman, setelah bertahun-tahun hadirnya angkutan online ini, baru kemarin-kemarin ini saya menggunakan jasa tersebut. Pertama waktu motor saya di service dan harus nginep motornya, mau gak mau harus pulang sendiri. Daftarlah aplikasi Gojek, cuman beberapa langkah langsung deh dipanggil drivernya dan sampai di rumah dengan selamat.

Pengalaman ke dua mirip seperti tadi dan kali ini mobil saya yang masuk bengkel, gak harus nginep sih, cuma antrinya lama estimasi waktu sampai selesai 6 jam, ya sudah pulang dulu aja, pake aplikasi Gojek yang sebelumnya udah di install, panggil dan sampai dengan selamat tiba di rumah.

Pengalaman saya menggunakan jasa driver online ini adalah: mudah dan murah, bahkan kabarnya jasa Grab lebih murah lagi, tapi tergantung lagi sepi atau ramenya order sih kata teman begitu.

Masalah Pada Angkot

Nah kembali ke demo angkot, angkot ini sebenarnya adalah angkutan yang praktis dan murah. Praktis tinggal nunggu di jalurnya, tunjuk lalu naik dan biayanya jauh lebih murah daripada menggunakan jasa ojek pangkalan. Namun dibalik kelebihannya itu kekurangannya adalah suka ngetem lama banget jadi waktu tempuh yang seharusnya cuma 10-15 menit bisa jadi lebih dari 1 jam gara-gara ngetem ini.

Kedua, sopirnya atau ada penumpang yang merokok. Walaupun sudah ada peraturanya yang melarang merokok di dalam angkot namun ada saja orang yang tidak tau diri merokok disitu, padahal ada penumpang wanita dan anak-anak di dalamnya, tentu saja ini membuat penumpang jadi tidak nyaman.

Ketiga, sopir yang ugal-ugalan. Bukan cerita aneh bila sopir angkot menjalankannya dengan ugal-ugalan atau tiba-tiba berubah jalur ke kiri atau ke kanan dengan tiba-tiba. Hal tersebut selain mengakibatkan penumpang tidak nyaman juga membahayakan pengguna jalan yang lain. Sebenarnya yang seperti itu adalah "oknum" karena prosentase nya tidak banyak namun perilaku buruk ini walaupun sedikit pelakunya namun mencemari image dari angkot secara keseluruhan.

Solusinya

Lalu bagaimana solusinya? ini adalah opini atau pendapat pribadi saya, sudah waktunya angkot dikurangi populasinya, soalnya sering saya lihat angkot yang jalan, penumpangnya kosong, akibatnya bisa ditebak penghasilan sopir jadi berkurang atau tidak maksimal. Lalu untuk menyiasatinya, sopir-sopir mengetem lama agar dapat menghemat bensin dan memaksimalkan penumpang. Namun karena sering ngetem penumpang jadi merasa tidak nyaman dan berpindah ke moda transportasi lainnya. Jadi aja terjadi lingkaran setan.

Dulu pada dekade tahun 80an di daerah tempat tinggal saya menggunakan delman, walaupun waktu itu saya masih kecil, tapi masih ingat dulu banyak delman yang beroperasi, kemudian pada dekade tahun 90an delman sudah berkurang drastis, mungkin masih ada satu atau dua yang beroperasi, namun kali ini posisi mereka digantikan oleh becak, dan becak pun tergusur populasinya oleh ojek di akir dekade 90an. Seingat saya sekarang sudah tidak pernah melihat becak lagi, apalagi delman.

Pengalaman Menggunakan Angkot

Begitu pula dengan angkot, posisinya semakin terpinggirkan karena para penumpang beralih ke moda transportasi yang lain terutama sepeda motor. Dulu pada pertengahan tahun 90an waktu saya masih sekolah di SMP, angkot mendominasi moda transportasi, apalagi saat pagi dan sore hari yaitu saat akan pergi dan pulang dari sekolah, sulit dapat tumpangan angkot, bukannya tidak ada angkot tapi tidak ada angkot yang kosong, alias semua pada penuh. Sampai-sampai beberapa kali kami anak-anak sekolah harus jalan kaki ke rumah.

Namun sejak masuk SMA saya menggunakan motor ke sekolah karena kalau pake angkot harus dua kali ganti angkot dengan jurusan yang berbeda, kan repot jadi dibelikan motor oleh ayah saya. Begitu pula saat masuk kuliah tetap menggunakan motor. Namun waktu itu populasi motor belum begitu banyak, waktu itu kebanyakan anak kuliahan tetap ngangkot atau kost di dekat kampus.

Barulah setelah terjadinya krisis moneter atau yang biasa disebut krismon pada tahun 1998 - 2000an saat dollar menggila, rupiah terpuruk, harga-harga meroket, tentu saja termasuk harga bensin pun naik tinggi menjadikan tarif angkot naik tak terkendali. Sehingga mulai waktu itu para pengguna angkot beralih ke sepeda motor karena alasan kepraktisan dan lebih hemat dibandingkan ongkos ngangkot.

Kondisi Sekarang

Dan saat ini diperparah dengan kehadiran transportasi online yaitu ojek dan taksi online, kalau sendiri mendingan naik ojek online karena walaupun harganya gak berbeda jauh tapi lebih praktis dan lebih cepat, kalau banyakan mendingan pake taksi online lebih murah dan nyaman ada AC nya.

Jadi yah... begitu lah opini saya, sebaiknya populasi angkot dikurangi agar persaingan sesama sopir angkot berkurang, mobil cepat terisi penumpang jadi tidak perlu ngetem, jadi angkot dapat mempertahankan pelanggan setianya supaya tidak pindah ke lain hati ;)

Update: 

Rencana Mogok kendaraan Angkutan Kota batal dilaksanakan, Alhamdulillah. Jadi besok yang mau ujian masuk perguruan tinggi negeri bisa lebih tenang, dan para pekerja pun dapat melakukan aktivitas seperti biasanya.

Kesepakatan Koperasi Angkot dan Taksi Konvensional dengan Dishub Kota Bandung
Kesepakatan Koperasi Angkot dan Taksi Konvensional dengan Dishub Kota Bandung

Comments

Popular posts from this blog

Just Dance Now, Game Seru Bermain Sambil Berolah Raga

Pengalaman Menjadi Mystery Shopper

Review Perbandingan Antara Iflix dengan Hooq